GPIB "BUKIT SENTUL" BOGOR

Wilujeng Sumping

Dilembagakan pada pada Ibadah Hari Minggu tanggal 25 September 2016 menjadi jemaat ke-322 dalam jajaran jemaat mandiri GPIB.


Bertekun dalam Pengajaran dan Persekutuan
(Kisah Para Rasul 2: 41-47)

  

“ Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”
(Kisah 2:42)

     Semua orang tanpa terkecuali pasti mendambakan hidup yang sehat. Oleh karena itu segala cara diupayakan. Namun rupanya untuk memiliki dan mempertahankan tubuh yang sehat itu tidak mudah. Ada begitu banyak tantangan dan godaannya. Jika bagi kita kesehatan jasmani menjadi satu hal yang penting untuk diperhatikan, maka demikian juga dengan kesehatan rohani kita. Seharusnya kita selalu memperhatikan atau bahkan melakukan yang namanya spiritual check up. Mengapa spiritual check up perlu dilakukan secara berkala? Karena kita harus menyadari bila untuk mempertahankan tubuh jasmani yang sehat saja banyak tantangan dan godaannya maka demikian juga yang terjadi ketika kita berjuang untuk mempertahankan kesehatan rohani kita. Dan tidak jarang kita sering gagal oleh karena godaan-godaan dari dalam diri kita ataupun dari luar diri kita.

     Inginkah kita memiliki kehidupan rohani yang sehat? Apa rahasianya? Jika iya, mari kita belajar dari kehidupan jemaat mula-mula:

  1. Mereka bertekun dalam ajaran rasul-rasul.

    Bertekun itu artinya rajin, giat, konsisten, disiplin untuk terus memprioritaskan waktu bagi Firman Tuhan. Bertekun dalam ajaran rasul-rasul (Firman Tuhan) menjadi hal yang paling dasar bagi hidup kerohanian jemaat mula-mula, karena hidup jemaat mula-mula dikelilingi oleh ajaran-ajaran lain seperti ajaran Yudaisme dan Helenisme.

  2. Mereka selalu terhubung dalam kelompok (persekutuan).

    Dari jemaat mula-mula kita diajak untuk hidup dalam persekutuan dan memecahkan roti bersama. Jangan menyepelekan kekuatan kelompok-kelompok kecil. Mengapa? Karena kelompok kecil menjadi ujung tombak perkembangan kekristenan pada abad ke-1.

  3. Mereka saling memperhatikan dan peduli satu dengan yang lain.

    Jemaat mula-mula memberikan sebuah contoh dalam hal berbagi yang luar biasa (Kisah 2: 45). Mereka yang mampu atau lebih tidak segan menjual harta yang mereka miliki untuk mencukupkan kebutuhan saudara lain yang berkekurangan, dan menariknya tak seorangpun dari antara mereka yang kekurangan.

  4. Mereka suka berdoa.

    Jemaat mula-mula senantiasa mengutamakan kehidupan doa, karena doa menjadi sumber kekuatan mereka dan sarana untuk mereka mengenal Tuhan secara pribadi.

     Inilah yang menjadi rahasia mengapa pada akhirnya jemaat mula-mula memiliki kehidupan rohani yang baik. Mari sekarang kita lihat, ternyata realitas hari ini bertolak belakang dengan realitas kehidupan jemaat mula-mula. Apakah hari ini kita masih terus bertekun dalam Firman Tuhan atau justru sebaliknya kita malas baca Firman Tuhan. Apakah kita masih terus berdoa? Atau justru sebaliknya kita sudah jarang dan malas berdoa. Apakah hari ini kita menjadi pribadi yang bersedia berbagi dan memperhatikan orang di sekitar kita atau justru kita sedang menjadi pribadi yang senang mementingkan kepentingan diri kita sendiri (egois). Apakah kita hari ini menjadi pribadi yang senang mendekatkan diri pada persekutuan-persekutuan atau sebaliknya kita mulai menjauhkan diri dari persekutuan dan ibadah kita? Mari kita renungkan Saudara: Orang yang sehat akan dapat jadi berkat bagi banyak orang. Demikian juga seseorang yang sehat dalam iman dan hidup spiritualitasnya juga akan dapat jadi berkat bagi banyak orang seperti ditunjukkan dalam Kisah 2: 47 mereka disukai oleh banyak orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Sebaliknya, jika hari ini kita jadi orang yang tidak mau atau enggan dan malas memperhatikan kesehatan iman dan spiritualitas kita, maka sudah dapat dipastikan kita jadi orang yang sakit. Yang mana pilihan kita? Jadi orang sehat atau jadi orang sakit? Tuhan memberkati.

Pdt. Ratna Indah Widhiastuty

PROGRAM BANK SAMPAH


GPIB BUKIT SENTUL
   

Sehubungan telah dimulai PROGRAM BANK SAMPAH diharapkan partisipasi Jemaat dalam bentuk sumbangan “SAMPAH” yang berupa :

  1. “SAMPAH” yang memiliki nilai jual, seperti: botol plastik, gelas plastik, koran, segala jenis kertas, barang elektronik dan kendaraan;
  2. “SAMPAH” yang memiliki nilai pakai berupa pakaian bekas layak pakai untuk menunjang DIAKONIA sosial GPIB “Bukit Sentul” Bogor.

Penyampaian sumbangan :

  • Dibawa pada saat ibadah keluarga untuk diberikan kepada TIM BANK SAMPAH atau PRESBITER SEKTOR;
  • Dibawa pada saat hari minggu;
  • Menghubungi TIM BANK SAMPAH dengan cara berkoordinasi dengan KOORDINATOR SEKTOR.

GPIB BUKIT SENTUL

Kajian Teologis Terhadap Isu-Isu Ekonomi dan Bisnis di Indonesia II
(Yahya Wijaya)

     Ciri budaya wirausaha adalah percaya diri, mau ambil resiko, kreatif dan inovatif, yang berakar pada optimisme terhadap perubahan. Banyak faktor yang membentuk karakter wirausaha pada diri seseorang. Karena pada usia seperti itu, kepercayaan diri sedang tumbuh, rasa frustasi sudah berkembang dan pengalaman pribadi telah mempunyai dasar yang kuat. Jadi, menjadi wirausaha merupakan hasil dari pengalaman mengatasi krisis personal. Faktor lain yang mendorong seseorang menjadi wirausaha adalah lingkungan dan pergaulan. Seseorang yang lahir dari kalangan wirausaha akan cenderung mewarisi karakter wirausaha. Demikian pula seseorang yang bergaul secara intens dengan kalangan wirausaha sedikit banyak akan melihat kewirausahaan sebagai sebuah cara hidup yang realistik. Tetapi tidak semua wirausaha mempunyai latar belakang keluarga pedagang.

     Pendidikan juga dapat mempengaruhi orang untuk menjadi kewirausahaan. Memang ada perdebatan apakah kewirausahaan dapat dihasilkan melalui pendidikan atau hanya tergantung pada bakat turunan. Hasil penelitian Sedgwick menemukan bahwa model pendidikan yang mengutamakan pengalaman dan mengembangkan ketajaman intuisi sangat menolong membangun karakter kewirausahaan. Hal ini terbukti karena banyak lembaga pendidikan di Indonesia yang tumbuh lewat pendidikan untuk membentuk karakter wirausaha. Faktor-faktor tadi dapat dikaitkan dengan pembentukan karakter pribadi seseorang wirausaha, tetapi tidak cukup kuat dalam pembentukan kewirausahaan sebagai sebuah kultur masyarakat. Pada kenyataannya, banyak masyarakat kurnag menghargai, beberapa justru sangat mencurigai, karakter wirausaha. Ada banyak faktor yang mempengaruhi sikap masyarakat terhadap kewirausahaan. Salah satu faktor yang sering disebut-sebut adalah tradisi agama, seperti yang telah diteliti oleh Max Weber.

     Lalu bagaimana dengan konsumen? Konsumsi tidak berdiri sendiri. Konsumsi mau tak mau terkait dengan produksi, karena prinsip keseimbangan supply-demand. Kaitan antara produksi dan konsumsi sebenarnya bersifat saling mengubah satu terhadap yang lainnya. Peningkatan produksi akan mendorong konsumsi dan sebaliknya naik turunnya konsumsi mempengaruhi naik turunnya produksi. Dalam hal inilah seringkali tradisi-tradisi keagamaan yang menekankan hidup sederhana pada praktiknya menghasilkan paradoks kalau bukan ambivalensi. Praktik hidup sederhana, yang dibarengi dengan kerja keras dan rasa tangggungjawab pribadi yang kuat dalam masyarakat Calvinis Puritan telah menjadi salah satu faktor pembentukan masyarakat produktif yang menjadi cikal bakal kapitalisme modern.

     Owens memperhatikan praktik konsumsi gereja-gereja yang dapat mempengaruhi perilaku konsumsi anggota-anggota jemaat. Tanpa disadari seringkali gereja ikut mempromosikan konsumerisme melalui praktik konsumsi yang tidak kritis, sehingga praktik konsumsi dalam kehidupan ‘gereja-gereja bebas’, yang dengan menggunakan banyak strategi marketing dan sistem manajemen bisnis telah berkembang pesat menjadi jemaat-jemaat besar dan kaya yang dikenal sebagai megachurch. Dengan demikian Owens memperingatkan gereja-gereja itu bahwa obesesi mau menjadi semakin besar dan semakin bagus ‘demi kemuliaan Tuhan’, seringkali membuat mereka tidak peka terhadap dampak sosial dan ekologis dari program-program pertumbuhan mereka.

Bersambung...

SIARAN RADIO GPIB

 

GPIB melayani lewat Siaran Radio GPIB yang dinamakan "Arise 'n Shine" pada Pkl. 14.00 - 15.00 WIB Minggu II & IV setiap bulannya di RADIO RPK (Radio Pelita Kasih) Jakarta. JaBoDeTaBek : melalui kanal Radio FM 96.3, di seluruh Indonesia & dunia secara real-time melalui : Live audio-steaming di http://www.radiopelitakasih.com. Aplikasi "Sahabat RPK" di Android / Apple device / BlackBerry. Untuk menghubungi saat siaran berlangsung melalui No. Telp (+62)(021)8000444 atau SMS/WA : (+62)08151800444.

SEMBOYAN GPIB

"Dan orang akan datang dari timur dan barat dan dari utara dan selatan dan mereka akan duduk, makan di dalam Kerajaan Allah"
(Lukas 13 : 29)

Tema Alkitabiah 2017-2018

Mengkaryakan pelayanan dan kesaksian dengan mewujudkan kebebasan, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan bagi sesama dan alam semesta (Lukas 4:19)

TUGAS GPIB

"Memantapkan spiritualitas umat untuk membangun dan mengembangkan GPIB sebagai Gereja Misioner yang membawa damai sejahtera Yesus Kristus di tengah-tengah masyarakat dan dunia."

VISI GPIB

"GPIB menjadi Gereja yang mewujudkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan-Nya."

MISI GPIB

  • Menjadi Gereja yang terus menerus diperbaharui (ecclesia reformata semper reformada) dengan bertolak dari Firman Allah yang terwujud dalam perilaku kehidupan warga gereja, baik dalam persekutuan, maupun dalam hidup bermasyarakat.

  • Menjadi Gereja yang hadir sebagai contoh kehidupan, yang terwujud melalui inisiatif dan partisipasi dalam kesetiakawanan sosial serta kerukunan dalam masyarakat dengan berbasis pada perilaku kehidupan keluarga yang kuat dan sejahtera.

  • Menjadi Gereja yang membangun keutuhan ciptaan yang terwujud melalui perhatian terhadap lingkungan hidup, semangat keesaan dan semangat persatuan dan kesatuan warga Gereja sebagai warga masyarakat.

Pemberitahuan

Penggalangan Dana Majelis Sinode melalui Penerbitan Kartu E-Money

Dalam rangka memperingati HUT GPIB yang Ke-70 tahun dan untuk mendukung pembiayaan program Unit-unit Misioner di lingkungan Majelis Sinode GPIB, maka akan dilaksanakan kegiatan penggalangan dana oleh Departemen PEG Bidang IV, dengan cara menerbitkan kartu uang elektronik isi ulang / e-money yang bekerjasama dengan 3 (tiga) Bank yaitu : Bank Mandiri, Bank BCA dan Bank BRI.

Majelis Sinode GPIB mengharapkan e-money ini agar dapat didistribusikan sebelum PST 2018 – Bekasi, maka surat pesanan pembelian e-money dari Jemaat diharapkan dapat diterima oleh tim kerja selambat lambatnya pada minggu pertama bulan Februari 2018.

Harga jual 1 (satu) kartu uang elektronik isi ulang / e-money ini sebesar Rp 125.000,-





INFORMASI SIARAN RADIO GPIB

Majelis Sinode GPIB menginformasikan kepada seluruh warga jemaat bahwa GPIB akan melayani lewat Siaran Radio GPIB yang dinamakan "Arise 'n Shine" pada Pkl. 14.00 - 15.00 WIB Minggu II & IV setiap bulannya di RADIO RPK (Radio Pelita Kasih) Jakarta. JaBoDeTaBek : melalui kanal Radio FM 96.3, di seluruh Indonesia & dunia secara real-time melalui : Live audio-steaming di http://www.radiopelitakasih.com. Aplikasi "Sahabat RPK" di Android / Apple device / BB. Untuk menghubungi saat siaran berlangsung melalui No. Telp (+62)(021)8000444 atau SMS/WA : (+62)08151800444.