GPIB "BUKIT SENTUL" BOGOR

Wilujeng Sumping

Dilembagakan pada pada Ibadah Hari Minggu tanggal 25 September 2016 menjadi jemaat ke-322 dalam jajaran jemaat mandiri GPIB.



PEMAHAMAN IMAN GPIB
tentang
NEGARA dan BANGSA

KAMI MENGAKU,

  1. Bahwa Allah, sebagai Sumber Kuasa, memberikan kuasa kepada pemerintah bangsa-bangsa guna mendatangkan keadilan dan kesejahteraan, memelihara ketertiban serta mencegah dan meniadakan kekacauan dan kejahatan. Dengan demikian sebagai hamba Allah, setiap pemerintah wajib mempertanggung jawabkan kuasa tersebut kepada Allah.

  2. Bahwa Roh Kudus yang adalah Roh keberanian akan menolong orang percaya untuk lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia, seperti yang telah disaksikan oleh para Rasul. Oleh karena itu Gereja terpanggil memperdengarkan suara kenabian terhadap masalah negara, bangsa, dan masyarakat.

  3. Bahwa berdasarkan tuntunan Roh Kudus, warga jemaat yang adalah sekaligus warga negara wajib menaati undang-undang dan penjabarannya yang telah menjadi ketetapan bersama, namun ia wajib memberi saran-saran perbaikan secara kritis dan konstruktif lewat saluran saluran pengawasan demi keadilan dan kesejahteraan bangsa.

  4. Bahwa berdasarkan tuntunan Roh Kudus, warga jemaat yang adalah sekaligus warga negara, di dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat, perlu membangun rasa persatuan dan kesatuan yang tidak merusak kebhinekaan dan kesetaraan dan yang telah menjadi bagian dari masyarakat warga/sipil, dimana hak-hak asasi manusia dijunjung tinggi.


Pojok Warta


Pembinaan Jemaat Misioner


(Vikaris Abednego Leosae)

Pembangunan Jemaat Misioner (III)
(D.R. Maitimoe)

     Penyebaran Injil yang sangat cepat di Asia, membuat gereja-gereja semakin berkembang dari tahun ke tahun. Gereja menjadi saksi atas perubahan globalisasi yang merubah kehidupan jemaat yang ada di Asia, karena gereja sangat berpengaruh dalam perkembangan zaman dan menyesuaikan kehidupan yang beriman kepada Yesus Kristus yang merupakan Tuhan dan Juruselamat. Melihat perkembangan itu, Dewan Gereja-Gereja Asia menegaskan betapa pentingnya kesaksian dan pelayanan warga gereja di masyarakat. Menurut D.R. Maitimoe, pernyataan dari hasil sidang pertama Dewan Gereja-Gereja di Asia bahwa perlu suatu pembaharuan dalam panggilan untuk pekabaran injil.

     Perhatian utama adalah terletak pada bidang sosial. Maksudnya adalah gereja dapat hadir secara efekif di tengah-tengah situasi revolusi dan pembangunan yang kini menggerakkan semua bangsa-bangsa di dunia, khususnya Asia. Perhatian gereja selanjutnya adalah kesadaran tentang perpecahan antara gereja-gereja. Perpecahan akan mengakibatkan pengahalang bagi pelayanan, kesaksian Kristen dan pekabaran injil. Perhatian selanjutnya tertuju pada kritisnya para pelayan dalam melayani. Melayani dengan cara-cara dan bentuk-bentuk yang baru sehingga dapat menjawab kebutuhan jemaat yang sesuai dengan perkembangan zaman. Perhatian yang terakhir tertuju pada masalah jabatan-jabatan gereja. Maksudnya adalah, sejauh mana jabatan-jabatan itu diperlukan oleh gereja-gereja pada masa kini untuk dipersiapkan dan dilatih agar dapat menopang kebutuhan-kebutuhan yang aktual bagi gereja-gereja di situasi Asia masa kini.

     Adapun tambahan yang dikemukakan oleh D.R. Maitimoe yang sangat penting diperhatikan oleh sinode-sinode gereja mengenai pendidikan teologi bagi pendeta-pendeta. Hal ini juga menjadi perhatian khusus karena pendidikan teologi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi calon pendeta dan tidak terlepas bagi pendeta dalam mengembangkan ilmu di jemaat-jemaatnya, terlebih khusus di Indonesia. Di Asia sendiri, persiapan para pendeta menjadi persoalan urgensi yang menuntut banyak perhatian dari pimpinan gereja-gereja dibandingkan pada masa lampau. Disini kita bisa melihat dan akan menjadi perhatian gereja-gereja, paling tidak ada dua hal yaitu pertama bahwa menghasilkan pendeta-pendeta yang mempunyai pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan dan yang dipersiapkan dengan lebih baik. Kedua, persiapan para pendeta dapat dikenakan pada situasi baru dari gereja-gereja di Asia masa kini, ditengah pergolakan dan pembangunan.

     Berkembangnya gereja-gereja di Asia membuat ada banyaknya eksperimen dan kegiatan-kegiatan kepeloporan sehingga kita bisa merasakan adanya tanda-tanda yang konkret sekalipun belum mencapai hasil yang memuaskan. Gereja tidak boleh merasa puas diri terhadap eksperimen-eksperimen yang konkret tersebut, melainkan dari eksperimen tersebut gereja terus berbenah, karena melihat bentuk-bentuk kehidupan jemaat dapat berubah-ubah ditiap zaman. Dengan kata lain, mereka yang sengaja melakukan penelitian dan eksperimen tersebut, mempunyai pandangan yang melawan arus pendapat umum (fundamentalisme struktural). Gereja pada umumnya dan jemaat-jemaat setempat itu hidup untuk melaksanakan Amanat Tuhan ke dalam dunia ini. Gereja tidak hidup sendiri. Maka tugas itu dilihatnya sebagai suatu penetrasi yang bersifat membebaskan bagi masyarakat dimana Kristus aktif bertindak. Suatu keyakinan bahwa kelompok-kelompok Kristen ditengah-tengah masyarakat harus makin menjadi nyata dan dengan jelas bahwa mereka adalah buah-buah pertama ciptaan Allah yang baru. Pola-pola dan struktur-struktur kemasyarakatan harus dipandang serius. Bahkan juga perubahan-perubahan yang sekarang terjadi dipandang serius, sehingga gereja-gereja kita tidak menambahkan beberapa cara pelayanan saja menurut kebutuhan situasi baru.

     Pribadi-pribadi Kristen dalam keseluruhan gereja, tidak lagi hidup tertutup atau hidup dengan sesama Kristen saja, mengakibatkan hubungan dengan masyarakat yang lain (diluar Kristen) menjadi terputus, sehingga terciptanya komunikasi yang baik dan relasi menjadi kurang bersahabat. Pribadi-pribadi Kristen mestinya berbuah di kalangan masyarakat dan merupakan permulaan dari kemanusiaan baru yang Allah ciptakan dalam Kristus bagi dunia ini. Ini merupakan sekaligus bagian fungsi dari warga gereja ditengah-tengah masyarakat umum, dimana mereka merupakan barisan-barisan terdepan dalam salah satu pelayanan gereja, yang menghasilkan penerima gagasan bahwa seluruh gereja terlibat dalam pemberitaan injil. Dengan kata lain bahwa para warga gereja merupakan pelaku-pelaku pemberitaan injil.

     Di Indonesia (Asia Tenggara) gereja-gereja ditafsirkan sebagai tanda-tanda pembaharuan yang bukan merupakan hasil daripada sesuatu strategi manusia belaka. Bukan juga hasil dari sesuatu rencana gerejani yang timbul karena perhitungan-perhitungan berkenaan dengan gejala kecenderungan-kecenderungan (tantangan) tertentu dalam sejarah serta perkembangan-perkembangan masyarakat. Gejala-gejala pembaharuan itu timbul didalam gereja-gereja dan didaerah-daerah yang letaknya berjauhan satu daripada yang lain, dan di mana terdapat situasi yang berbeda-beda. Tidak hanya gereja-gereja saja, pengertian-pengertian baru tentang Injil, Kerajaan Surga, Gereja dan Masyarakat, berlaku sama dengan tantangan-tantangan yang muncul dari masyarakat dengan segala perubahan dan perkembangan yang begitu pesat.

     Beberapa rintangan timbul dari dalam kebudayaan Asia sendiri seperti agama-agama besar di Asia (kecuali Yahudi dan Islam) serta aliran-aliran kebatinan dan kepercayaan-kepercayaan adat, memperlihatkan sikap individualistis dalam ibadah. Agama disini merupakan suatu “jalan” untuk mencapai keselamatan pribadi, atau keselamatan kelompok. Merupakan suatu jalan untuk memperoleh kekuatan rohani bila menghadapi krisis dalam kehidupan pribadi atau kelompok, sedangkan sikap individualistis, jemaat seringkali dipandang sebagai suatu himpunan individu-individu yang terpisah-pisah dalam relasinya satu dengan yang lain. Melihat hal itu, tantangan yang sama adalah fakta bahwa gereja-gereja kita rupanya tidak mengakui konsepsi, di mana jemaat setempat merupakan perwakilan atau “agency” proklamasi injil ditengah-tengah lingkungan masyarakat setempat.

     Pada akhirnya rintangan paling besar dan utama dalam pembaharuan gereja dan jemaat-jemaat adalah jiwa (sikap dan mental) pemusatan pada diri sendiri. Ini merupakan dosa besar karena kehidupan dan aktivitas jemaat hanya ditujukan kepada kepentingan diri sendiri, pememliharaan dan kelanjutan kelembagaan diri sendiri, serta menimbulkan sikap yang paling anti pekabaran injil. D.R. Maitimoe memberikan suatu pandangan bahwa bilamana gereja-gereja kita mau memandang dengan sungguh-sungguh tugas dan kewajiban misioner terhadap urusan apapun di dunia ini, maka kita pasti terbentur pada pola “pasif” yang membeku potensi warga gereja sebagai kawan sekerja Allah dalam hidup kegerejaan kita, kalau sesuatu hanya dipusatkan pada diri (lembaga gereja) sendiri. Untuk percaya bahwa gereja-gereja kita sungguh-sungguh bersedia mengatasi rintangan-rintangan tersebut diperlukan iman yang sungguh-sungguh (iman biji sesawi), karena Tuhan Yesus Kristus tetap berkuasa untuk mengerjakan keajaiban-ajaiban di dalam gereja. Tuhan akan menunggu kesediaan kita untuk mau menerima kuasa ajaib-Nya, sebelum Ia mencurahkan anugerah pembaharuan itu oleh Roh Kudus.

     Sekarang giliran kita, warga jemaat yang menginginkan pembaharuan bagi gereja untuk bersedia menerima dan selalu mengandalkan kuasa-Nya, bukan memusatkan diri sendiri yang terus kita pelihahara sehingga menjadi darah daging (budaya) dan banyak menciptakan generasi-generasi kristen yang memiliki pemikiran pada diri sendiri saja. Melibatkan diri kita dalam suatu kesadaran akan kesulitan-kesulitan dan peringatan-peringatan yang menghalangi segala usaha guna mendapatkan pola-pola baru bagi suatu gereja yang bersedia menghadirkan dan memperlakukan misinya dengan sungguh-sungguh di tengah-tengah masyarakat demi Injil Keselamatan tersebut.

...bersambung

SIARAN RADIO GPIB

 

GPIB melayani lewat Siaran Radio GPIB yang dinamakan "Arise 'n Shine" pada Pkl. 14.00 - 15.00 WIB Minggu II & IV setiap bulannya di RADIO RPK (Radio Pelita Kasih) Jakarta. JaBoDeTaBek : melalui kanal Radio FM 96.3, di seluruh Indonesia & dunia secara real-time melalui : Live audio-steaming di http://www.radiopelitakasih.com. Aplikasi "Sahabat RPK" di Android / Apple device / BlackBerry. Untuk menghubungi saat siaran berlangsung melalui No. Telp (+62)(021)8000444 atau SMS/WA : (+62)08151800444.

SEMBOYAN GPIB

"Dan orang akan datang dari timur dan barat dan dari utara dan selatan dan mereka akan duduk, makan di dalam Kerajaan Allah"
(Lukas 13 : 29)

Tema Alkitabiah 2017-2018

Mengkaryakan pelayanan dan kesaksian dengan mewujudkan kebebasan, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan bagi sesama dan alam semesta (Lukas 4:19)

TUGAS GPIB

"Memantapkan spiritualitas umat untuk membangun dan mengembangkan GPIB sebagai Gereja Misioner yang membawa damai sejahtera Yesus Kristus di tengah-tengah masyarakat dan dunia."

VISI GPIB

"GPIB menjadi Gereja yang mewujudkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan-Nya."

MISI GPIB

Pemberitahuan